gambar

Pengukuran nilai echo akustik dari ikan merupakan metode yang penting dalam pendugaan stok ikan. Data estimasi stok ikan yang tepat atau presisi dapat diperoleh dari akurasi instrumen akustik yang sudah dikalibrasi. Salah satu metode untuk mengkalibrasi instrumen akustik adalah dengan mengukur nilai echo dari sebuah target standar, yaitu bola sphere. Tingkat akurasi dari instrumen sonar yang dikalibrasi sangat tergantung pada karakteristik akustik dari target (bola sphere). Pengkalibrasian menggunakan objek bola sphere ini dilakukan pada instrumen akustik CruzPro PcFF88. Bola sphere yang terbuat dari material tungsten carbide dengan ukuran diameter 3 cm diletakkan pada jarak 1 m di bawah transducer CruzPro menggunakan frekuensi 200 kHz. Hasil yang didapatkan berdasarkan pengukuran langsung menunjukkan bahwa nilai target strength dari bola sphere tersebut adalah sebesar -42.5 dB, sedangkan secara empiris nilai target strength bola sphere tersebut adalah sebesar -46 dB.

Sumber Dari : Repository IPB

 

Mung bean sprouts waste as alternative feed ingredients have good nutritional quality as livestock feed. Research aimed to eva luate the digestibility of dry matter, organic matter, crude protein, crude fat, crude fiber, extract material without nitrogen and nitrogen retention ration with different feeding time management (morning and evening) of Garut lamb. About 12 heads of Garut sheep with the average body weight 15.06±2.41 kg were analyzed in 2×2 factorial randomized complete block design. The first factor was different feed fonnu!a consist of RI (consent rate 60% + grass 40%) and 40%) and R2 (consent rate 60% + mung bean sprouts waste 40%). The second factor was different feeding time consist of P (morning) and S (evening). The result of statistic analysis showed there was no interaction both of treatment in consumption nutrient, digestibility nutrient, nitrogen retention . The type of feed had significant effect (P<O.OS) in DM, Ash, CP, CF, EE, NFE consumption (g kg ., BBo.75). Different feed fonnula treatment had significant effect (P<0.05) in DM, CP, CF for digestibility nutrient, so that different feeding time and the interaction with different feed formula had not significant effect (P>0.05). The value nitrogen retention , nitogen consumption, feces nitrogen and NBP showed that type of feed had significant effect (P<0.05) but feeding time consist of P (morning) and S (evening) bad significant effect (P<0.05) in nitrogen feces and EPN (g kg -, BBo.75)

 

(Oktarina, Vivin, 2015, Kecernaan Nutrien dan Retensi Nitrogen Ransum Mengandung Limbah Tauge dengan Waktu Pemberian Berbeda pada Domba Garut, [online]  ( http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76238 , diakses 16 Oktober 2015)

gambar

gambar

Mole crab is well known as one of fisheries resources in Kebumen which has the potential to use. This research aimed to measure aspect of biology reproduction such as sex ratio, fecundity, classification and development egg, and alternative of management plan for fisheries. The research was conducted at sandy beach in Subdistric of Buluspesantren Distric of Kebumen, Central Java in the period of October 2012 until February 2013. The result of sex ratio is unbalanced with average of 98.73% for female and 1.17% for male. Total number of mole crab that taken during the research was 1243 individuals. The relationship of fecundity and lenght carapas was estimated F= 150.32CL – 3044.6 with number of coefficient (R2) is 42.53%. Fecundity of lenght carapas in stages also had a little number of coefficient. Result of egg diameter of mole crab show that the type of reproductive is total spawner. Size of egg diameter had a increased number. The alternative of management plan for mole crab resources in Kebumen is selectifity of catch

 

sumber : http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/66244

Biologi xxxxx

Biologi xxxxx

 

Study on some aspects of reproductive biology of mudflat clam has been carried out on mangrove ecosystem in inner Ambon bay. Reproductive parameters were consist of sex ratio, ganado somatic index (GSI), gonad maturity level of female and fecund ity. The result showed that the percentage of male was as equivalent as female. The peaks ofGSI and gonad maturity level offemale occurred in April and May (the beginning of wet season), and also in November and December (dry season). The abundance of fecundity was found in September and October and assumed spawned in November and December. It was concluded that spawning occurred throughout the year.

 

sumber : http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/55778

Krisis energi dunia pada era dekade terakhir telah berdampak nyata pada dinamika harga bahan bakar minyak (BBM). Ketika harga minyak dunia melambung di atas harga 100 $ US per barel telah mendorong penelitian dan pengembangan energi alternatif, antara lain Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel. Peraturan Presiden RI Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional menetapkan target produksi biofuel tahun 2025 sebesar lima persen dari total kebutuhan energi nasional. Namun ketika harga minyak turun sampai 50 $ US per barel tetap saja harga BBM berfluktuasi. Satu implementasi kebijakan energi nasional diwujudkan untuk kedaulatan energi melalui Program Desa Mandiri Energi (DME). Program yang dicanangkan oleh Presiden RI pada tahun 2007 dimaksudkan untuk mempromosikan diversifikasi energi, energi baru terbarukan dan menyediakan energi dari sumberdaya lokal. Pada saat pelaksanaan penelitian, Program DME sudah berjalan lebih dari satu tahun. Penelitian ini berupaya merancang strategi penyuluhan yang baik untuk pengembangan silvoindustri biofuel nyamplung melalui: (1) menguraikan proses dan perkembangan demplot DME Nyamplung, (2) menganalisis keterlibatan masyarakat desa hutan di lokasi demplot dalam mendukung difusi adopsi silvoindustri biofuel nyamplung, dan (3) menganalisis kesiapan desa demplot DME Nyamplung menjadi DME. Responden penelitian adalah masyarakat Desa Buluagung dan Desa Patutrejo berjumlah 62 orang, mereka dipilih karena pernah terlibat dalam pembangunan DME BBN Demplot Nyamplung; seperti mantan (bekas pekerja proyek) pengada biji, mantan karyawan persemaian, mantan peserta pelatihan budidaya nyamplung dan mantan peserta pelatihan operator pabrik. Responden terpilih ialah tokoh kunci (pemimpin formal maupun informal) di dua desa penelitian. Jumlah populasi peserta sebanyak 100 orang responden di setiap desa. Responden penelitian seluruhnya, yang dipilih secara purposive proportional dari setiap desa, atau 31 persen dari populasi. Penelitian dilaksanakan dengan metode survei menggunakan kuesioner disertai observasi. Wawancara semi terstruktur digunakan untuk memperoleh data dari informan terkait. Focused Group Discussion (FGD) di tingkat desa juga dilakukan untuk mengkonfirmasi data dan triangulasi untuk memverifikasi data. Peubah penelitian terdiri atas: (1) Karakteristik inovasi teknologi biofuel nyamplung (2) peranan demplot DME nyamplung (3) fasilitasi tokoh masyarakat dalam mendukung silvoindustri biofuel nyamplung (4) karakteristik individual dan sosial-ekonomi responden. Penelitian ini menemukan bahwa pembentukan demplot DME di Desa Buluagung dan di Desa Patutrejo dilakukan secara topdown untuk mewujudkan DME. Lokasi Demplot dipilih karena terdapat bahan baku berlimpah. Demplot DME Nyamplung dalam difusi adopsi inovasi teknologi biofuel nyamplung belum berhasil karena belum dapat menunjukkan sebagai usaha yang menguntungkan. Keterlibatan masyarakat dalam implementasi demplot tergolong tinggi meskipun belum secara menyeluruh pada lapisan masyarakat. Diketemukan kedua Demplot DME nyamplung belum berhasil karena karakteristik inovasi biofuel nyamplung termasuk kerumitan tinggi dalam arti tidak mudah diserap masyarakat. Untuk memperoleh keberhasilan, maka peran penyuluh dan tokoh masyarakat sebagai pendamping sangat diperlukan. Modal sosial masyarakat cukup kuat untuk berpartisipasi, meskipun kapasitas sumber daya manusia (SDM) lembaga DME dan lembaga LDME masih perlu ditingkatkan. Strategi terpilih untuk mengembangkan silvoindustri biofuel nyamplung di desa pasca demplot untuk menuju desa mandiri energi adalah: 1) penguatan manajemen LDME pasca demplot, 2) pendampingan bisnis hutan rakyat, dan 3) revitalisasi kebijakan sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam silvoindustri bioenergi nyamplung. Dukungan kebijakan sangat memungkinkan dengan memaksimalkan peran pemerintah desa sejalan dengan kemandirian desa yang dipayungi UU Desa No. 6 tahun 2014. Merevitalisasi dukungan pemerintah pusat dapat dilakukan kebijakan Kementerian ESDM dan Kementerian Kehutanan. Kebijakan yang memihak pada terwujudnya desa mandiri energi diantaranya berupa: penguatan lembaga Lembaga Desa Masyarakat Hutan (LDMH) atau Lembaga Desa Mandiri Energi (LDME), penelitian dan pengembangan inovasi teknologi nyamplung, meningkatkan produktivitas hutan tanaman nyamplung rakyat dengan adanya insentif dari pemerintah, fasilitasi penyuluh fungsional atau swadaya Kehutanan, dukungan investasi, dan dukungan dana termasuk Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan kehutanan.

Krisis energi dunia pada era dekade terakhir telah berdampak nyata pada dinamika harga bahan bakar minyak (BBM). Ketika harga minyak dunia melambung di atas harga 100 $ US per barel telah mendorong penelitian dan pengembangan energi alternatif, antara lain Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel. Peraturan Presiden RI Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional menetapkan target produksi biofuel tahun 2025 sebesar lima persen dari total kebutuhan energi nasional. Namun ketika harga minyak turun sampai 50 $ US per barel tetap saja harga BBM berfluktuasi. Satu implementasi kebijakan energi nasional diwujudkan untuk kedaulatan energi melalui Program Desa Mandiri Energi (DME). Program yang dicanangkan oleh Presiden RI pada tahun 2007 dimaksudkan untuk mempromosikan diversifikasi energi, energi baru terbarukan dan menyediakan energi dari sumberdaya lokal. Pada saat pelaksanaan penelitian, Program DME sudah berjalan lebih dari satu tahun. Penelitian ini berupaya merancang strategi penyuluhan yang baik untuk pengembangan silvoindustri biofuel nyamplung melalui: (1) menguraikan proses dan perkembangan demplot DME Nyamplung, (2) menganalisis keterlibatan masyarakat desa hutan di lokasi demplot dalam mendukung difusi adopsi silvoindustri biofuel nyamplung, dan (3) menganalisis kesiapan desa demplot DME Nyamplung menjadi DME. Responden penelitian adalah masyarakat Desa Buluagung dan Desa Patutrejo berjumlah 62 orang, mereka dipilih karena pernah terlibat dalam pembangunan DME BBN Demplot Nyamplung; seperti mantan (bekas pekerja proyek) pengada biji, mantan karyawan persemaian, mantan peserta pelatihan budidaya nyamplung dan mantan peserta pelatihan operator pabrik. Responden terpilih ialah tokoh kunci (pemimpin formal maupun informal) di dua desa penelitian. Jumlah populasi peserta sebanyak 100 orang responden di setiap desa. Responden penelitian seluruhnya, yang dipilih secara purposive proportional dari setiap desa, atau 31 persen dari populasi. Penelitian dilaksanakan dengan metode survei menggunakan kuesioner disertai observasi. Wawancara semi terstruktur digunakan untuk memperoleh data dari informan terkait. Focused Group Discussion (FGD) di tingkat desa juga dilakukan untuk mengkonfirmasi data dan triangulasi untuk memverifikasi data. Peubah penelitian terdiri atas: (1) Karakteristik inovasi teknologi biofuel nyamplung (2) peranan demplot DME nyamplung (3) fasilitasi tokoh masyarakat dalam mendukung silvoindustri biofuel nyamplung (4) karakteristik individual dan sosial-ekonomi responden. Penelitian ini menemukan bahwa pembentukan demplot DME di Desa Buluagung dan di Desa Patutrejo dilakukan secara topdown untuk mewujudkan DME. Lokasi Demplot dipilih karena terdapat bahan baku berlimpah. Demplot DME Nyamplung dalam difusi adopsi inovasi teknologi biofuel nyamplung belum berhasil karena belum dapat menunjukkan sebagai usaha yang menguntungkan. Keterlibatan masyarakat dalam implementasi demplot tergolong tinggi meskipun belum secara menyeluruh pada lapisan masyarakat. Diketemukan kedua Demplot DME nyamplung belum berhasil karena karakteristik inovasi biofuel nyamplung termasuk kerumitan tinggi dalam arti tidak mudah diserap masyarakat. Untuk memperoleh keberhasilan, maka peran penyuluh dan tokoh masyarakat sebagai pendamping sangat diperlukan. Modal sosial masyarakat cukup kuat untuk berpartisipasi, meskipun kapasitas sumber daya manusia (SDM) lembaga DME dan lembaga LDME masih perlu ditingkatkan. Strategi terpilih untuk mengembangkan silvoindustri biofuel nyamplung di desa pasca demplot untuk menuju desa mandiri energi adalah: 1) penguatan manajemen LDME pasca demplot, 2) pendampingan bisnis hutan rakyat, dan 3) revitalisasi kebijakan sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam silvoindustri bioenergi nyamplung. Dukungan kebijakan sangat memungkinkan dengan memaksimalkan peran pemerintah desa sejalan dengan kemandirian desa yang dipayungi UU Desa No. 6 tahun 2014. Merevitalisasi dukungan pemerintah pusat dapat dilakukan kebijakan Kementerian ESDM dan Kementerian Kehutanan. Kebijakan yang memihak pada terwujudnya desa mandiri energi diantaranya berupa: penguatan lembaga Lembaga Desa Masyarakat Hutan (LDMH) atau Lembaga Desa Mandiri Energi (LDME), penelitian dan pengembangan inovasi teknologi nyamplung, meningkatkan produktivitas hutan tanaman nyamplung rakyat dengan adanya insentif dari pemerintah, fasilitasi penyuluh fungsional atau swadaya Kehutanan, dukungan investasi, dan dukungan dana termasuk Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan kehutanan.

 

sumber : http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/76293

Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Institut Pertanian Bogor telah dilaksanakan sejak tahun 1975. Tujuan dari pelaksanaan KKN ini adalah untuk mempersiapkan mahasiswa IPB dalam mengaplikasikan semua keahlian dan bidang ilmu yang dipelajari.

KKN Fateta IPB 2013

KKN Fateta IPB 2013

KKN kali ini digagas oleh Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA).

 

sumber : http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/24584

Biomassa…

Alat Pengering ini mengintegrasikan energi terbarukan berupa energi termal dan listrik dari surya, angin dan biomassa. Berguna untuk mengeringkan produk pertanian, misalnya gabah dan tidak tergantung cuaca

Alat ini berbentuk piramida terpotong dengan dinding transparan yang berfungsi untuk meloloskan gelombang pendek dari energi surya, dilengkapi kerangka yang terbuat dari besi, rak putar tempat menaruh bahan yang akan dikeringkan, lantai semen, kipas pembuang udara lembab, dan panel surya.

Selain praktis dan murah, dengan menggunakan alat ini kualitas produk yang dihasilkan menjadi lebih baik dan seragam karena terjadi pengadukan saat alat ini berputar.

 

The Simple 3 in 1 dryer incorporated 3 sources of energy, the thermal and electricity from solar energy, wind, and biomass.

The device can be used to dry agriculture products such as paddy and is not weather dependent.

Covered with glass, the pyramid shaped device framework is made from steel, with turning rack, cemented floor, fan to suck moisture out and a solar panel.

 

Sumber: alatpengering.innov.ipb.ac.id

Sabtu, 11 Oktober 2014

Sabtu siang pukul 13.00 ada sosialisasi ICT IPB yang diadakan oleh DIDSI IPB.

Penguins

Kumpul bersama ……………

Gudang Uang

Gudang Uang

Foreign Direct Investment (FDI) is one of the alternatives for financing the process of economic development of a country. Development of FDI in Indonesia showed a positive trend in the period before the economic crisis. Although the economy has undergone a recovery after an economic crisis rocked, but the condition of Indonesia’s FDI has not shown the development of meaning. This is a problem in the midst of Indonesia’s efforts to build the economy. The method used was VAR/ VECM. The Data used is the quarterly time series data from quarter I 2000 – quarter IV 2012. This research was done to see the effects of trade openness to inflows of FDI to the case in Indonesia. Based on the test results the VECM showed a significant negative results from trade openness to inflows of FDI to Indonesia Read the rest of this entry »

LOGO IPB ILKOM
Badge Image-IPB
Bogor Agricultural University
Badge Image-IPB
Ayo Pilih IPB
Badge Image-IPB
Badge Image-IPB
Badge Image-IPB
LOGO IPB
Badge Image-IPB